|
| |
|
|
 |
 |
 |
| |
|
| Kenangan Indah Rumah Tua |
Perlahan, truk yang mengangkut perabotan milik ibuku bergerak maju, menuju kerumah baru ibuku. Ibuku telah menjual rumah tersebut, dan membeli rumah baru di perbatasan Tangerang dan Jakarta Selatan. Aku duduk di tengah, diantara supir dan kenek truk. Tak terasa merasa mataku berkaca-kaca. Betapa tidak, walaupun aku sudah tidak tinggal di sana lagi, tapi hampir tigapuluh tahun aku telah menempati rumah itu, sebelum akhirnya aku menikah dan pindah ke rumahku sendiri. Terharu hati ini rasanya meninggalkan rumah yang telah kudiami sejak kecil. Kenangan indah masa kecil terbayang dibenakku. Bapakku almarhum, teman-temanku, tetangga, suasana malam lebaran, tempat bermain, lapangan bola, banjir, semuanya silih berganti terbayang. Tenggorokanku terasa tercekat. Jika tidak malu pada supir dan kenek truk, mungkin aku sudah menangis.
Aku melamun membayangkan kenangan masa kecilku di rumah itu. Semua kenangan itu terasa indah bagiku, termasuk banjir yang seringkali terjadi di daerah tersebut. Mungkin karena waktu itu aku masih anak-anak, sehingga kesusahan yang ditimbulkan oleh banjir tidak terasa. Yang terasa adalah kesenangan bermain hujan dan bermain air di jalan-jalan yang tergenang.
Kenangan lain yang menyenangkan adalah jika aku diajak Bapak naik becak untuk beli sesuatu. Biasanya Bapak mengajaknya malam hari. Yang paling sering adalah pergi ke toko obat yang menjual obatnya dengan harga murah dibandingkan dengan harga apotik.
Bapak juga sering mengajak aku main karambol. Sering kali aku yang menang walaupun aku masih kecil saat itu. Atau mungkin juga Bapak yang mengalah untuk menyenangkan hatiku. Pastinya aku tidak tahu.
Terkenang juga aku akan suasana bulan puasa dengan teman-teman semasa kecilku. Setelah sahur, biasanya aku pergi ke mesjid untuk shalat subuh. Setelah itu lalu kami bermain-main, entah naik sepeda, bermain bola, atau sekedar berkumpul. Yang mengherankan, kok bisa-bisanya kami bermain bola setelah sahur, karena setelah bermain bola, tentu saja kami kehausan, namun karena kami berpuasa, ya kami tidak boleh minum. Biasanya untuk menghindari haus, aku lalu tidur setelah bermain bola. Bangun-bangun hari sudah siang dan hausnya sudah tidak begitu terasa. Pada malam lebaran, biasanya jalan-jalan dilingkungan rumah kami akan ramai, dan banyak yang bermain petasan, karena dulu petasan belum dilarang. Petasan yang paling favorit adalah petasan janue, yaitu petasan yang terbang dulu sebelum meledak. Mungkin dulu kami tidak sadar akan bahayanya, jika petasan tersebut terbang ke arah yang salah. Pernah terjadi memang, ada petasan yang mencederai salah seorang teman dengan luka yang cukup parah di telapak tangannya. Yang paling menyenangkan adalah suasana ketika lebaran tiba. Setelah shalat Ied, biasanya anak-anak berkeliling ke seluruh tetangga untuk bersalam-salaman. Yang diharapkan oleh anak-anak tentunya uang lebaran yang dibagikan oleh pemilik rumah yang didatangi.
Terkenang juga aku sekaligus heran, yaitu jika sedang musim layang-layang. Dulu waktu masih kecil, aku kadang-kadang memainkan layang-layang di atas genteng. Padahal rumahku itu gentengnya tinggi sekali, tapi dulu kok berani ya aku naik sampai pucuk genteng rumahku. Kalau sekarang, jangankan sampai pucuk, memikirkan untuk naik saja aku tidak berani.
Permainan anak-anak jaman dulu, kebanyakan merupakan permainan tradisional, seperti kelereng, tak-kadal, benteng, petak umpet, dan lain-lain yang namanya aku sudah lupa. Kami waktu itu juga sering bermain bulu tangkis dan tenis meja.
Kebetulan di dekat rumahku ada rumah dinas yang dijadikan asrama untuk taruna curug. Karena ruang tamunya kosong, maka tenis meja milik Bapak ditaruh disitu. Waktu itu ada salah satu taruna yang mantan atlit PON asal Bali. Aku sering diajarinya teknik bermain tenis meja, sehingga walaupun aku masih kecil saat itu, aku termasuk pemain tenis meja yang diperhitungkan di daerah rumahku tersebut. Aku ingat pada saat lomba tujuhbelasan, aku ikut bertanding, sistemnya sistem gugur. Belum-belum aku sudah mendapat lawan pertama yang tangguh, namun usianya sudah jauh diatasku (mungkin mahasiswa). Sedangkan aku saat itu kalau tidak salah baru kelas 3 atau 4 SD. Walaupun akhirnya aku kalah, namun aku terus mendapat applaus dari penonton. Mungkin karena aku mengeluarkan jurus-jurus spin yang diajarkan oleh mantan atlit PON tersebut.
Tukang becak di sana sudah merupakan bagian dari warga, sehingga kami akrab dengan para tukang becak tersebut. Kalau malam tahun baru, tidak jarang kami meminjam becak untuk berkeliling. Tukang becaknya sendiri tidak ikut berkeliling. Yang mengayuh bergantian di antara anak-anak. Sedangkan isi becaknya sendiri dimuati banyak anak-anak, mungkin antara 6 sampai 8 anak, sementara dibelakang 2 orang. Yang memilukan adalah pada saat becak mulai dilarang di Jakarta, dimana banyak terjadi razia becak. Aku ingat bagaimana para tukang becak tersebut menyembunyikan becaknya di halaman rumahku, karena rumahku letaknya paling ujung di jalanan yang buntu. Namun para petugas razia rupanya sudah mengetahui tempat becak-becak tersebut disembunyikan, hingga akhirnya becak-becak tersebut diangkut semuanya dengan truk. Sejak becak dilarang, para tukang becak itu sebagian pulang ke kampungnya masing-masing, sedangkan sebagian lagi beralih profesi, ada yang menjadi supir bajaj, ada yang dipekerjakan oleh RT menjadi hansip, ada juga yang luntang-lantung menunggu kalau-kalau ada warga yang membutuhkan tukang. Sebagian aku masih ingat namanya, antara lain Marwa, Damun, Ketek (nama panggilan).
Di halaman rumahku ada sekitar 5 pohon jambu biji yang sering berbuah. Ada tukang somay, kami panggil Joni, yang sering meminta padaku untuk barter somaynya dengan jambu biji tersebut. Aku tentu saja senang dengan barter tersebut. Tapi aku dimarahi nenekku. Kata nenekku itu, lain kali kalau mau somay beli aja, jambu biar saja diambil tukang somay, jangan barteran.
Tak terasa truk yang mengangkut perabotan sudah sampai ke tujuan. Aku turun dari truk sambil menunduk untuk menyembunyikan mataku yang berair. Selamat tinggal rumah tua, selamat tinggal masa kecilku yang indah. Kami akan teruskan perjalanan hidup yang fana ini tanpa kalian lagi. |
Ian Prianto |
2006-04-21 |
|
|
|
|
| |
|
|
 |
|
| |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
 |
MAGIC TRICK |
| Ingin meningkatkan traffict pengunjung dan popularity web anda secara cepat dan tak terbatas ..? serahkan pada saya, saya akan melakukannya untuk anda GRATIS !!! klik disini-1 dan disini-2 |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|