|
| |
|
|
 |
 |
 |
| |
|
| Bangsaku Berbudi Luhur |
Saat makan malam telah tiba. Di meja makan terhidang ikan asin, sayur asem serta sambal terasi, menimbulkan selera makanku.
“Ayah, kok aneh ya …?” berkata istriku tiba-tiba.
“Apa yang aneh sih …aku mau makan nih, laper….”
“Iya … aneh, sekarang kalo belanja di pasar biasanya ikan-ikan segar atau ikan asin kan dikerubungi lalat. Tapi sekarang kok lalat nggak pada ngerubungi ikan …? Mungkin para pedagang di pasar tambah higienis ya …”
Selera makanku langsung hilang. Teringat aku akan tayangan sebuah stasiun televisi yang membuatku tidak percaya … inikah perbuatan orang-orang kecil bangsaku ? Aku tadinya masih beranggapan bahwa orang-orang kecil umumnya lebih jujur dan lebih berbudi dari pada orang-orang kaya yang mendapatkan kekayaannya entah dari mana. Terbayang lagi dibenakku potongan tayangan televisi tadi, bagaimana para nelayan di tengah laut memasukkan ikan-ikan hasil tangkapan mereka ke cairan formalin, karena harga es balok untuk mengawetkan ikan tidak terjangkau oleh mereka, jadi sebagai gantinya mereka menggunakan zat pengawet mayat tersebut. Terbayang juga dibenakku bagaimana proses yang dilakukan pada kerang sebelum dijual dipasaran. Pertama kerang tersebut diwarnai dengan zat pewarna pakaian hingga warna oranye kerang menjadi cerah. Berikutnya kerang tersebut di masukkan ke cairan formalin, setelah itu dimasukkan ke karung berisi es baru ditaburi tawas. Jadi ada tiga zat berbahaya pada kerang tersebut yaitu pewarna pakaian, formalin, dan tawas.
“Yah, kok ngelamun, tuh aku bikinin sambal terasi kesukaan Ayah…” istriku memecah lamunanku.
Sambal terasi… aku jadi ingat lagi tayangan televisi tersebut, bagaimana zat perwana pakaian berwarna ungu yang digunakan untuk membuat terasi menempel di wadah pembuatan terasi, dan tidak bisa hilang walau dicuci.
Oh.. rakyat kecil bangsaku…Aku masih berharap bahwa umumnya rakyat kecil bangsaku adalah orang yang jujur dan berbudi. Tapi harapan makin memudar tatkala teringat lagi tayangan televisi tadi, bagaimana para rakyat kecilku pembuat ikan asin menyemprotkan pestisida ke ikan asin yang akan dijual dipasaran.
Harapanku masih ada, namun teringat lagi tayangan lain, dimana para penjual tahu mengawetkan tahu, juga dengan formalin. Teringat juga bagaimana para pembuat bakso membeli daging sapi yang mulai busuk sebagai bahan baku bakso mereka, dan lagi-lagi pengawet formalin digunakan pada dagangan mereka. Teringat lagi … dan lagi …bagaimana industri rumahan saos sambal membeli cabe busuk, lalu diproses dan diberi pewarna pakaian hingga jadi saos sambal yang dijual ke pedagang makanan keliling.
Aku masih tetap berharap, bahwa bangsaku adalah bangsa yang berbudi luhur. |
Ian Prianto |
2006-02-02 |
|
|
|
|
| |
|
|
 |
|
| |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
 |
MAGIC TRICK |
| Ingin meningkatkan traffict pengunjung dan popularity web anda secara cepat dan tak terbatas ..? serahkan pada saya, saya akan melakukannya untuk anda GRATIS !!! klik disini-1 dan disini-2 |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|